Kepada peri bersayap tersamar dan tak pernah ada
Kepada hantu yang menyelinap disela-sela selimut malam
Kepada lelaki berkalung jangkar dan picak sebelah mata
Sekali lagi dosa telah didesak untuk memburu tuannya
Mencecar jerih dijadikan korban dan sebuah tebusan
Lelaki yang meninggalkan ketakutan di sebuah massa
Adat tidak akan pernah melupakan selama-lamanya

Februari , ketika ombak sedang meninggi
Melampaui tiga ujung tombak para prajurit
Dan pelaut yang menggigil ditepi pantai
Musim yang begitu biru untuk memulai resah-resah baru
Perompak picak telah meminang pelacur pantai itu
dengan mahar gancu dan sepeti karun
Mengerudungkan bendera kapal pembajak
Perompak yang tedorong musim, kini mendadak lirih
“ Akan kulakukan apapun untukmu,
Dari tembakan meriam hingga tenggelamnya kapal
Aku hanya memintamu menunggu dipelabuhan
Aku mencintaimu bersama bayangan kematian
Begitu juga dengan pengkhianatan
Aku menjanjikanmu sebuah cincin kepedihan
Kematian yang kelak sangat mengesankan…”
Ombak semakin tinggi menghantam menara pengintai
Pengantin keluar dengan gaun putih yang tersimpan
Pelacur telah mempesonakan malam dan undangan
Pasangan serasi menipu mata para penipu
Melupakan laut dan langit yang telah mempersiapkan
Api makar yang berdenting denting sabar
Seperti bunyi kecapi tua oleh perempuan buta
Awan menggumpal gelap turun perlahan
Menjelma ribuan camar-camar hitam
Camar yang kini berparuh tajam
Dengan cakar kuat hendak mencengkeram
Camarpun telah seberang Ababil dimassa berhala
Kala dendam merasuki dada mereka
Kepada pelacur yang selalu merusak sarang
Memecah telur dan mengubur hidup-hidup tetasan
Hari ketiga belas dimalam keempatbelas
Pesta perkawinan berpadu peringatan legenda jalang
Dari restu kerahiban yang kitabnya terpendam
Pasangan betukaran taburan cokelat
Berdansa memutar tangan dan tertawa
Sekarang ribuan camar datang menhancurkan
Menyemburkan liur yang terbakar
Melobang dada-dada mempelai dan undangan
Kemeriahan telah berganti erangan
Deburan ombak telah kalah oleh rintihan
Mereka bagai ulat-ulat sekutu Abrahah
Karena Aku dan camar adalah satu lipatan amarah
Belasan tahun aku membisu menyimpan kebencian
Malam inilah kukumpulkan geram sepenuh kerongkongan
Sekali-kali nya aku lantang membuat satu teriakan
Dan pagi harinya kau saksikan mayat-mayat bergelimpangan
Maka lihatlah..
Dendam telah menjadi masa depan
Bagi mereka yang terampas disebagian perjalanan
Dan perampas yang menghilangkan sebuah masa
Adat tidak akan pernah melupakan selama-lamanya
Selama-lamanya…





