BERANDA SESAMBAT GEGAMBAR I-SAUDAGAR


LIRIK-LIRIK INI TERDEDIKASI UNTUK GUNAWAN (R.I.P), HENDRY SARWONO, HERU NUGROHO, FERRY KOESDARWANTO, ABDUL FATAH SENANG BERTEMU DI BAND YANG TAK PERNAH JADI

Sabtu, 14 Februari 2009

EPISODE DENDAM bag. 2

Di setiap masa kecil dengan ketakutan-ketakutanya
Kepada peri bersayap tersamar dan tak pernah ada
Kepada hantu yang menyelinap disela-sela selimut malam
Kepada lelaki berkalung jangkar dan picak sebelah mata
Sekali lagi dosa telah didesak untuk memburu tuannya
Mencecar jerih dijadikan korban dan sebuah tebusan
Lelaki yang meninggalkan ketakutan di sebuah massa
Adat tidak akan pernah melupakan selama-lamanya

Februari , ketika ombak sedang meninggi
Melampaui tiga ujung tombak para prajurit

Dan pelaut yang menggigil ditepi pantai
Musim yang begitu biru untuk memulai resah-resah baru
Perompak picak telah meminang pelacur pantai itu
dengan mahar gancu dan sepeti karun
Mengerudungkan bendera kapal pembajak
Perompak yang tedorong musim, kini mendadak lirih
“ Akan kulakukan apapun untukmu,
Dari tembakan meriam hingga tenggelamnya kapal
Aku hanya memintamu menunggu dipelabuhan
Aku mencintaimu bersama bayangan kematian
Begitu juga dengan pengkhianatan
Aku menjanjikanmu sebuah cincin kepedihan
Kematian yang kelak sangat mengesankan…”

Ombak semakin tinggi menghantam menara pengintai
Pengantin keluar dengan gaun putih yang tersimpan
Pelacur telah mempesonakan malam dan undangan
Pasangan serasi menipu mata para penipu
Melupakan laut dan langit yang telah mempersiapkan
Api makar yang berdenting denting sabar
Seperti bunyi kecapi tua oleh perempuan buta
Awan menggumpal gelap turun perlahan
Menjelma ribuan camar-camar hitam
Camar yang kini berparuh tajam
Dengan cakar kuat hendak mencengkeram
Camarpun telah seberang Ababil dimassa berhala
Kala dendam merasuki dada mereka
Kepada pelacur yang selalu merusak sarang
Memecah telur dan mengubur hidup-hidup tetasan

Hari ketiga belas dimalam keempatbelas
Pesta perkawinan berpadu peringatan legenda jalang
Dari restu kerahiban yang kitabnya terpendam
Pasangan betukaran taburan cokelat
Berdansa memutar tangan dan tertawa
Sekarang ribuan camar datang menhancurkan
Menyemburkan liur yang terbakar
Melobang dada-dada mempelai dan undangan
Kemeriahan telah berganti erangan
Deburan ombak telah kalah oleh rintihan
Mereka bagai ulat-ulat sekutu Abrahah
Karena Aku dan camar adalah satu lipatan amarah
Belasan tahun aku membisu menyimpan kebencian
Malam inilah kukumpulkan geram sepenuh kerongkongan
Sekali-kali nya aku lantang membuat satu teriakan
Dan pagi harinya kau saksikan mayat-mayat bergelimpangan

Maka lihatlah..
Dendam telah menjadi masa depan
Bagi mereka yang terampas disebagian perjalanan
Dan perampas yang menghilangkan sebuah masa
Adat tidak akan pernah melupakan selama-lamanya
Selama-lamanya…
Selengkapnya.....

Minggu, 18 Januari 2009

SENJA MAKIN MARAH

Tungku perapiannya hanya menambah merah senja saja
Menjejalkan akar batang kayu dan semua yang ia serupakan takdir
Dan mimpi yang selalu berkeping diretakkan kalah oleh kelahi
Mungkin ia besar dari kaum pengutuk anak perempuan
Bayi- bayipun dianggap utusan kesialan
Dan makam telah tergali sebelum tangisan

Sebelum perempuan tua itu datang
Menimang bocah dengan ingus terusap selendang
Siapa sangka ia datang tak untuk mengiba, Ia datang hanya untuk mengumpat
“ engkau terlaknat” Dan hampir saja ia percaya “ pernahkah kau dengar tentang malaikat
yang mencabut nyawa dengan kasar , pada tiap jiwa yang ingkar lagi sasar?
ingatlah jahat yang selalu mencari korban
hanya kepada empunyalah ia akan menikam
ingatlah marah dan tangis yang hanya dilenyapkan senyuman
apakah kemurahan tak lagi menghapus dosa, tuan?”

Senja hanya menambah panjang saja hari ini
Terompahpun tak lagi melemparkan telapak kaki
Lalu ia berandai dulu dilahirkan ditengah-tengah Yahudi
Entahlah Sabtu nanti aku terkutuk menjadi kera atau babi

Ia menjadi hening nanar terduduk memasung diri
Menatap kaca bersandar jendela , dan berangsur-angsur gila
Sedangkan matahari memijar tak pernah perduli
Dengan orang yang tersambar hilang penglihatanya
Selengkapnya.....

Jumat, 02 Januari 2009

MANIS GETIR

kepada: ..


Dengan nafas yang masih basi
kutiupkan mantra di potraitmu setiap pagi

Sesering kau menemuiku di sudut makam itu
dengan rambut yang basah seharum tanah
kutemukan kerapuhan sedahan kamboja
seduri mawar keketusanmu pula

Secepat aku berpaling menatap kearahmu
dari dagu sampai dahimu yang berbulu
dari sudut matamu ke sudut matamu
aku memahami jengkal parasmu


Sampai benar-benar ingin menampar wajahmu
tapi selalu saja terhalang raut ibuku
yang juga pernah perawan sepertimu

Aku lelaki diseparuh waktumu
Selengkapnya.....
 
Template oleh : Mr.RAHMAN ABDUL MANAF  |  Diubah oleh : SUTIARSO HADI SUTANTO
KOPI LUWAK INDONESIA | JAVA FURNITURE | CRAFT LAMPS
Mempergunakan MOZILLA FIREFOX untuk Tampilan Yang Lebih Baik