Kamis, 18 Desember 2008

EPISODE DENDAM


Belasan tahun aku menghindar bukan karena gentar
dengan lidahmu yang tajam sekejam kutukan
ketika kau menghardikku akupun kaku membatu
karena aku telah tumbuh diasuh Legolas
hidup tangguh sebagai pemanah
yang begitu mudah memindai matamu sampai berdarah-darah
Belasan tahun aku pergi ke gunung
meramu daun menumbuk racun
yangkan kutenggakkan kejantungmu hingga membiru
hidup ditepi danau membantu iblis membangun singgasananya
mengibarkan panji-panji menebar bisikan sebelum maghrib tiba
akupun besar berteman gusar dan tumbuh dengan dendam bergemuruh

Sampai hari ini aku datang menjengukmu
bertanya tentang lampion-lampion yang kau lemparkan diatap rumah
menyebarkan api membakar kalap tiang-tiang kayu
juga ayah,ibu dan saudara perempuanku

Ketika itu…
kau tersenyum pada anak kecil yang kaunafikkan keonaran darinya
sedangkan ia menangis dalam menyimpan dendam
Kepadamu

Kini kau tergetar jatuh berlutut menatapku
tersimpuh dihadapan kesumat yang segera tertunaikan
setelah semalaman aku mengasah sebilah pedang
menghidupkan teluh yang telah lama haram
yang akan mengantarmu mati perlahan
kuhadirkan anak istrimu sebagai penyaksi
biar menjerit parau menyayat-nyayat sepi
“inilah masa depan, ketika sekarat menjadi sebuah hiburan”
Sedangkan anakmu menangis dalam menyimpan dendam
Kepadaku


Dengan pedang berlumuran aku menuju makam
menyampaikan berita
“Ayah, hukuman telah dijatuhkan mendahului malam”


Dendam berkelebat pergi menyisir gelap
mencari benci yang selalu menyendiri


solo-bekasi

2 komentar:

  1. inspirasi : David Kemat , aku marah, aku menangis aku geram ketika kau keluar menangis bersujud dan sama tak bisa berbuat apa-apa, kata maaf terkadang naif didengar, aniaya begitu mudah (dipaksa) dilupakan , sedang mereka kembali memukul, memuntahkan darah dari orang yang dituduh (dijadikan) bersalah.

    BalasHapus

 
Template oleh : Mr.RAHMAN ABDUL MANAF  | 
Mempergunakan MOZILLA FIREFOX untuk Tampilan Yang Lebih Baik