Minggu, 28 Desember 2008

Mengunjungi Surau

sepenggal kabar yang memekakkan telinga
banguna tua itu telah dihuni sekawanan setan
kaligrafi hambar masih saja terpampang
kumandang petang hari tak lagi mengundang
abi-abid telah tersibuk dengan tahlilan
laki-laki yang belum juga lebat kumis jenggotnya
bergegas di setiap panggilan-panggilan
membasuh dahi yanh hamper hitam luka
disungkurkannya disudut lantai dengan lama

seketika ada yang mengingatkan

seketika ada yang menghantuinya
banyak cerita yang harus dihadirkan
banyak nestapa yang membeku disana
datang bagai letusan menggelombang

tak sadar selanjutnya

Selengkapnya.....

Kamis, 18 Desember 2008

EPISODE DENDAM


Belasan tahun aku menghindar bukan karena gentar
dengan lidahmu yang tajam sekejam kutukan
ketika kau menghardikku akupun kaku membatu
karena aku telah tumbuh diasuh Legolas
hidup tangguh sebagai pemanah
yang begitu mudah memindai matamu sampai berdarah-darah
Belasan tahun aku pergi ke gunung
meramu daun menumbuk racun
yangkan kutenggakkan kejantungmu hingga membiru
hidup ditepi danau membantu iblis membangun singgasananya
mengibarkan panji-panji menebar bisikan sebelum maghrib tiba
akupun besar berteman gusar dan tumbuh dengan dendam bergemuruh

Sampai hari ini aku datang menjengukmu
bertanya tentang lampion-lampion yang kau lemparkan diatap rumah
menyebarkan api membakar kalap tiang-tiang kayu
juga ayah,ibu dan saudara perempuanku
Ketika itu…
kau tersenyum pada anak kecil yang kaunafikkan keonaran darinya
sedangkan ia menangis dalam menyimpan dendam
Kepadamu

Kini kau tergetar jatuh berlutut menatapku
tersimpuh dihadapan kesumat yang segera tertunaikan
setelah semalaman aku mengasah sebilah pedang
menghidupkan teluh yang telah lama haram
yang akan mengantarmu mati perlahan
kuhadirkan anak istrimu sebagai penyaksi
biar menjerit parau menyayat-nyayat sepi
“inilah masa depan, ketika sekarat menjadi sebuah hiburan”
Sedangkan anakmu menangis dalam menyimpan dendam
Kepadaku


Dengan pedang berlumuran aku menuju makam
menyampaikan berita
“Ayah, hukuman telah dijatuhkan mendahului malam”


Dendam berkelebat pergi menyisir gelap
mencari benci yang selalu menyendiri


solo-bekasi
Selengkapnya.....

Sabtu, 13 Desember 2008

ode chikunguya

kepada dhini

lima musim penyembelihan terlewat
hanya kubathin alismu yang menyatu
dan memilih menggerutui langit
mengapa terlalu cintanya kepada biru

datang dari arah berlawanan
adalah satu keganjilan untuk kupaksakan
mengikuti warna senja manapun
aku yang perih mengeja pagar rumahmu

menghampirimu lagi untuk sekian kali
dengan serakan-serakan
yang kukumpulkan
kuhadapkan padamu sebelum gelap
tetapi
lagi-lagi kaupun gagal kudekap

disetiap bocah yang berebut mencium tanganmu
kutitipkan satu-satu kekukuhan
bathinku
semakin tua mengeja namamu

seandainya dulu cinta
dilahirkan serupa seekor domba
pastinya
kusembelih sebelum kau tiba


sukabumi 2008
Selengkapnya.....
 
Template oleh : Mr.RAHMAN ABDUL MANAF  | 
Mempergunakan MOZILLA FIREFOX untuk Tampilan Yang Lebih Baik