Sabtu, 14 Februari 2009

EPISODE DENDAM bag. 2

Di setiap masa kecil dengan ketakutan-ketakutanya
Kepada peri bersayap tersamar dan tak pernah ada
Kepada hantu yang menyelinap disela-sela selimut malam
Kepada lelaki berkalung jangkar dan picak sebelah mata
Sekali lagi dosa telah didesak untuk memburu tuannya
Mencecar jerih dijadikan korban dan sebuah tebusan
Lelaki yang meninggalkan ketakutan di sebuah massa
Adat tidak akan pernah melupakan selama-lamanya

Februari , ketika ombak sedang meninggi
Melampaui tiga ujung tombak para prajurit

Dan pelaut yang menggigil ditepi pantai
Musim yang begitu biru untuk memulai resah-resah baru
Perompak picak telah meminang pelacur pantai itu
dengan mahar gancu dan sepeti karun
Mengerudungkan bendera kapal pembajak
Perompak yang tedorong musim, kini mendadak lirih
“ Akan kulakukan apapun untukmu,
Dari tembakan meriam hingga tenggelamnya kapal
Aku hanya memintamu menunggu dipelabuhan
Aku mencintaimu bersama bayangan kematian
Begitu juga dengan pengkhianatan
Aku menjanjikanmu sebuah cincin kepedihan
Kematian yang kelak sangat mengesankan…”

Ombak semakin tinggi menghantam menara pengintai
Pengantin keluar dengan gaun putih yang tersimpan
Pelacur telah mempesonakan malam dan undangan
Pasangan serasi menipu mata para penipu
Melupakan laut dan langit yang telah mempersiapkan
Api makar yang berdenting denting sabar
Seperti bunyi kecapi tua oleh perempuan buta
Awan menggumpal gelap turun perlahan
Menjelma ribuan camar-camar hitam
Camar yang kini berparuh tajam
Dengan cakar kuat hendak mencengkeram
Camarpun telah seberang Ababil dimassa berhala
Kala dendam merasuki dada mereka
Kepada pelacur yang selalu merusak sarang
Memecah telur dan mengubur hidup-hidup tetasan

Hari ketiga belas dimalam keempatbelas
Pesta perkawinan berpadu peringatan legenda jalang
Dari restu kerahiban yang kitabnya terpendam
Pasangan betukaran taburan cokelat
Berdansa memutar tangan dan tertawa
Sekarang ribuan camar datang menhancurkan
Menyemburkan liur yang terbakar
Melobang dada-dada mempelai dan undangan
Kemeriahan telah berganti erangan
Deburan ombak telah kalah oleh rintihan
Mereka bagai ulat-ulat sekutu Abrahah
Karena Aku dan camar adalah satu lipatan amarah
Belasan tahun aku membisu menyimpan kebencian
Malam inilah kukumpulkan geram sepenuh kerongkongan
Sekali-kali nya aku lantang membuat satu teriakan
Dan pagi harinya kau saksikan mayat-mayat bergelimpangan

Maka lihatlah..
Dendam telah menjadi masa depan
Bagi mereka yang terampas disebagian perjalanan
Dan perampas yang menghilangkan sebuah masa
Adat tidak akan pernah melupakan selama-lamanya
Selama-lamanya…
Selengkapnya.....

Minggu, 18 Januari 2009

SENJA MAKIN MARAH

Tungku perapiannya hanya menambah merah senja saja
Menjejalkan akar batang kayu dan semua yang ia serupakan takdir
Dan mimpi yang selalu berkeping diretakkan kalah oleh kelahi
Mungkin ia besar dari kaum pengutuk anak perempuan
Bayi- bayipun dianggap utusan kesialan
Dan makam telah tergali sebelum tangisan

Sebelum perempuan tua itu datang
Menimang bocah dengan ingus terusap selendang
Siapa sangka ia datang tak untuk mengiba, Ia datang hanya untuk mengumpat
“ engkau terlaknat” Dan hampir saja ia percaya “ pernahkah kau dengar tentang malaikat
yang mencabut nyawa dengan kasar , pada tiap jiwa yang ingkar lagi sasar?
ingatlah jahat yang selalu mencari korban
hanya kepada empunyalah ia akan menikam
ingatlah marah dan tangis yang hanya dilenyapkan senyuman
apakah kemurahan tak lagi menghapus dosa, tuan?”

Senja hanya menambah panjang saja hari ini
Terompahpun tak lagi melemparkan telapak kaki
Lalu ia berandai dulu dilahirkan ditengah-tengah Yahudi
Entahlah Sabtu nanti aku terkutuk menjadi kera atau babi

Ia menjadi hening nanar terduduk memasung diri
Menatap kaca bersandar jendela , dan berangsur-angsur gila
Sedangkan matahari memijar tak pernah perduli
Dengan orang yang tersambar hilang penglihatanya
Selengkapnya.....

Jumat, 02 Januari 2009

MANIS GETIR

kepada: ..


Dengan nafas yang masih basi
kutiupkan mantra di potraitmu setiap pagi

Sesering kau menemuiku di sudut makam itu
dengan rambut yang basah seharum tanah
kutemukan kerapuhan sedahan kamboja
seduri mawar keketusanmu pula

Secepat aku berpaling menatap kearahmu
dari dagu sampai dahimu yang berbulu
dari sudut matamu ke sudut matamu
aku memahami jengkal parasmu


Sampai benar-benar ingin menampar wajahmu
tapi selalu saja terhalang raut ibuku
yang juga pernah perawan sepertimu

Aku lelaki diseparuh waktumu
Selengkapnya.....

Minggu, 28 Desember 2008

Mengunjungi Surau

sepenggal kabar yang memekakkan telinga
banguna tua itu telah dihuni sekawanan setan
kaligrafi hambar masih saja terpampang
kumandang petang hari tak lagi mengundang
abi-abid telah tersibuk dengan tahlilan
laki-laki yang belum juga lebat kumis jenggotnya
bergegas di setiap panggilan-panggilan
membasuh dahi yanh hamper hitam luka
disungkurkannya disudut lantai dengan lama

seketika ada yang mengingatkan

seketika ada yang menghantuinya
banyak cerita yang harus dihadirkan
banyak nestapa yang membeku disana
datang bagai letusan menggelombang

tak sadar selanjutnya

Selengkapnya.....

Kamis, 18 Desember 2008

EPISODE DENDAM


Belasan tahun aku menghindar bukan karena gentar
dengan lidahmu yang tajam sekejam kutukan
ketika kau menghardikku akupun kaku membatu
karena aku telah tumbuh diasuh Legolas
hidup tangguh sebagai pemanah
yang begitu mudah memindai matamu sampai berdarah-darah
Belasan tahun aku pergi ke gunung
meramu daun menumbuk racun
yangkan kutenggakkan kejantungmu hingga membiru
hidup ditepi danau membantu iblis membangun singgasananya
mengibarkan panji-panji menebar bisikan sebelum maghrib tiba
akupun besar berteman gusar dan tumbuh dengan dendam bergemuruh

Sampai hari ini aku datang menjengukmu
bertanya tentang lampion-lampion yang kau lemparkan diatap rumah
menyebarkan api membakar kalap tiang-tiang kayu
juga ayah,ibu dan saudara perempuanku
Ketika itu…
kau tersenyum pada anak kecil yang kaunafikkan keonaran darinya
sedangkan ia menangis dalam menyimpan dendam
Kepadamu

Kini kau tergetar jatuh berlutut menatapku
tersimpuh dihadapan kesumat yang segera tertunaikan
setelah semalaman aku mengasah sebilah pedang
menghidupkan teluh yang telah lama haram
yang akan mengantarmu mati perlahan
kuhadirkan anak istrimu sebagai penyaksi
biar menjerit parau menyayat-nyayat sepi
“inilah masa depan, ketika sekarat menjadi sebuah hiburan”
Sedangkan anakmu menangis dalam menyimpan dendam
Kepadaku


Dengan pedang berlumuran aku menuju makam
menyampaikan berita
“Ayah, hukuman telah dijatuhkan mendahului malam”


Dendam berkelebat pergi menyisir gelap
mencari benci yang selalu menyendiri


solo-bekasi
Selengkapnya.....

Sabtu, 13 Desember 2008

ode chikunguya

kepada dhini

lima musim penyembelihan terlewat
hanya kubathin alismu yang menyatu
dan memilih menggerutui langit
mengapa terlalu cintanya kepada biru

datang dari arah berlawanan
adalah satu keganjilan untuk kupaksakan
mengikuti warna senja manapun
aku yang perih mengeja pagar rumahmu

menghampirimu lagi untuk sekian kali
dengan serakan-serakan
yang kukumpulkan
kuhadapkan padamu sebelum gelap
tetapi
lagi-lagi kaupun gagal kudekap

disetiap bocah yang berebut mencium tanganmu
kutitipkan satu-satu kekukuhan
bathinku
semakin tua mengeja namamu

seandainya dulu cinta
dilahirkan serupa seekor domba
pastinya
kusembelih sebelum kau tiba


sukabumi 2008
Selengkapnya.....

Minggu, 07 Desember 2008

'aina nahnu minhum


dimana kita diantara mereka

lelaki berpisau dapur disudut mata
bagai pencuri bernafas dalam lumpur
bersama ular turun merayap jurang
berdesis...
mematuk mangsa dari belakang

perempuanpun perlahan-lahan jalang
memburai rahimnya sebelum umur
menjual pinggul-pinggul bergetaran
panggil aku binal...
semalaman tubuhku untukmu tuan

sedangkan setan lari beralibi
mengapa wajahku selalu tergambar seram
menjerit tawa dikeheningan
berkeliaran...
menyambar-nyambar disetiap lamunan

dan pendeta mencecap leher biarawati
lalu mencari jawab antara jema'at
wahai..dimana kita diantara mereka
sudahlah...
aku tak lagi menerima pengakuan dosa
Selengkapnya.....

Kamis, 04 Desember 2008

SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR 1



PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943

HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! (1948)

Siasat, Th III, No. 96, 1949
Selengkapnya.....

Senin, 24 November 2008

halusimati

mati yang di iri

hari-hari emas diujung tahun babi
menetapi ujung tahun sang penyelamat
masih saja aku tatapi dada-dada penari
yang melekuk ngarai dan bukit
masa-masa panas diladang tersulut api
aku sang petarung abadi
kini tertikam belati sendiri
melenguh perih beban sekarat
pembawa panji hanya menaburi pasir
diseonggok mayat yang terkulai
bukan bunga yang terbiasa untuk mengenang
arak-arakan prajurit sebelum terpendam

desember 2007 Selengkapnya.....

Jumat, 21 November 2008

DARI LISAN YANG PALING MULIA


"Sungguh telah ada manusia-manusia sebelum kalian , seseorang yang ditangkap lalu dibuatkan untuknya lubang galian di tanah kemudian dilemparkan kedalamnya, kemudian dihadirkan gergaji lalu gergaji itu diletakkan diatas kepalanya dan ia dibelah menjadi dua bagian , dan disisir dengan sisir besi hingga terkelupas apa yang ada sebelum daging dan tulangnya. Ternyata hal itu tidak bisa menghalang-halangi dari diennya. Demi Allah, Allah pasti menyempurnakan dien ini hingga seseorang pengendara melintas dari Shan'a hingga Hadramaut tidak marasa takut kecuali kepada Allah dari serigala atas kambing-kambingnya. Akan tetapi kalian tergesa-gesa..." Selengkapnya.....

Kamis, 20 November 2008

asmaradana

Selengkapnya.....
 
Template oleh : Mr.RAHMAN ABDUL MANAF  | 
Mempergunakan MOZILLA FIREFOX untuk Tampilan Yang Lebih Baik